Monday, November 17, 2014

Dari Kajang ke Jakarta

Aku dan Sham ambil keputusan 'hijrah' ke Jakarta untuk Anur menjalani aktiviti sekolah keperluan khas/special needs atau di sini dipanggil kebutuhan khusus. Tekanan perit ekonomi Malaysia membebankan. Bayangkan untuk latihan harian Anur seperti fisioterapi, occupational therapy, speech therapy atau lainnya boleh mencecah RM8000 sebulan. Tanahair yang melaungkan slogan Rakyat Didahulukan atau momokan Kepedulian Rakyat seakan gelap untuk Anur dan kawan-kawan.
Mungkin kos biaya pusat di Jakarta mahal juga untuk rakyat mereka tetapi untuk kita masih mampu. Dengan saku cukup-cukup dan tekad yang bulat (kerana banyak sangat berfikir pun tak bawa ke mana-mana) kami ke Lebak Bulus, Cilandak daerahnya di Jakarta Selatan.
Singgah bermalam di rumah abang Sazali dan Kak Mon yang sudah empat tahun menyekolahkan Nani, juga Cerebral Palsy di sana. Segala urusan mencari rumah sewa diuruskan mereka malah tilam, kipas, pinggan mangkuk serta peralatan dapur ehsan mereka. Allah berkati keluarga hati mulia ini. Di lapangan terbang kami dijemput supir mereka, Pak Toto. Seperti abang Long menasihati adiknya, abang Sazali beri tips adat budaya orang sini. Seperti adik bongsu yang takut-takut, kami patuh.
Rumah sewa kami kecil, di sini dipanggil kontrakan. Ruang tamu 6'X10', satu jendela yang kain batik dan tuala kami jadikan langsir, sebuah bilik, satu bilik air dan ruang dapur kecil. Ada loteng yang boleh naik ke bumbung untuk menyidai pakaian. Tikus sebesar lengan menari-nari di laman pada waktu malamnya.
Senin hingga Jumat dari pagi sampai sore Anur ke sekolah. Pelatih-pelatihnya ikhlas melatih anak seperti Anur. Hari pertama sahaja, nama Anur sudah dikenali. Anur wujud di sini. Paginya sesi berdoa, kemudian latihan. Sebelum makan tengah hari ada sesi kelas belajar sambil menyanyi. Jadual terisi. Anur cukup-cukup dikerjakan.
Abang Aznan dan Kak Sazana sebelum kami ke sini telah memberitahu kawannya Ana Anise dan suaminya Hermanto akan kami. Lalu mereka menziarahi kami dan membawa kami tidur di rumah mereka pada hujung minggu. Sham masakkan masakan Melayu sehingga Hermanto heboh di kantornya betapa hebat masakan Malaysia. Dia meminta Sham masakkan untuk teman-temannya pada hari lahirnya hujung November ini nanti.
Anur dimasukkan ke wad Mayapada Hospital kerana jangkitan paru-paru seminggu. Ini risiko yang terpaksa dihadapi bila di luar. Seperti di Beijing dulu juga. RM3000 lebih habis di wad ini dan mengganggu bajet persekolahan Anur juga. Perjuangan bukan mudah. Banyak duri menghalang yang mencucuk-cucuk keazaman supaya laeh dan menyerah kalah.

Berhijrah bukan mudah. Banyak benda perlu dikorban. Ada yang perlu ditinggalkan. Lalu aku memikirkan bagaimana getirnya pendatang-pendatang berhijrah meninggalkan keluarga dan mencari rezeki di tempat lain.
Perbezaan wajah kita dengan mereka tak jauh kerna jika kita tidak buka mulut tiada siapa menjangka kita dari Malaysia. Malah kami bisa saja bergaul dengan tetangga apatah lagi dengan peniaga warung Soto mie Bogor dekat jalan besar masuk ke rumah kami. Sampai minum pun free sekali tu. Dan benar kata abang Sazali dan Kak Mon, orang Jakarta budi pekertinya tinggi. Beberapa kali kami lemah alah dengan kehalusan mereka.

Foto-foto: Anur jalani latihan, kami menaiki angkutan (van) menuju sekolah, Nora Reformis bersama anaknya dan teman-teman menziarahi kami, aku dengan Pak Deki suku Asmat dari Papua dan jururawat Mayapada Hospital, Supia Lubis, keluarga Ana dan Hermanto, Sham dan Kak Mon.















4 comments:

Irfa said...

semoga yg terbaik utk semua

Anonymous said...

Salam
Gua doakan yang baik baik untuk lu, bro
@brutalsolo

Le man said...

Semoga di permudahkan segala oleh ALLAH

Rosnida Zainab said...

Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Rosnida zainab asal Kalimantan Timur, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil di daerah surakarta, dan disini daerah tempat mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat Jl. Letjen Sutoyo No. 12 Jakarta Timur karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya 0853-1144-2258 atas nama Drs Muh Tauhib SH.MSI beliaulah yang selama ini membantu perjalan karir saya menjadi PEGAWAI NEGERI SIPIL.alhamdulillah berkat bantuan bapak Drs Muh Tauhib SH.MSI SK saya dan 2 teman saya tahun ini sudah keluar, bagi anda yang ingin seperti saya silahkan hubungi bapak Drs Muh Tauhib SH.MSI, siapa tau beliau bisa membantu anda